Site Overlay

Sosialisasi Pengolahan Sampah dengan Metode Takakura di SMAN 1 Punggur, Lampung Tengah

Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Prodi Teknik Lingkungan yang diketuai oleh Pak Fajriharish Nur Awan, S.T., M.Si. telah melaksanakan kegiatan sosialisasi pengolahan sampah dengan metode Takakura di SMAN 1 Punggur, Lampung Tengah. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 15 peserta yang terdiri dari guru, petugas kebersihan dan siswa.

Kegiatan diawali dengan sambutan oleh kepala sekolah yaitu Pak Didi Nuryadi, S.Pd., M.Pd. Beliau menyambut baik kegiatan yang dilakukan dengan harapan bisa menjadikan SMAN 1 Punggur menjadi lebih baik dengan dukungan dari institusi seperti Itera.

Pengenalan dan demonstrasi pembuatan keranjang metode Takakura dilakukan oleh Ibu Mutiara Fajar, S.T., M.T. dibantu oleh Alisha, Nasrul dan Aziz. Ibu Mutiara menjelaskan bahwa metode ini dapat dilakukan untuk membantu mengurangi jumlah sampah yang dibawa ke TPA.

“Sampah yang dapat digunakan untuk metode ini hanya sampah sisa sayur dan buah. Jangan dimasukkan sampah sisa makanan, daging, dan sebagainya karena akan menimbulkan lalat dan bau,” tambah Ibu Mutiara.

Peserta menyimak dengan sangat antusias. Terlihat dari beberapa peserta yang bertanya terkait teknis pelaksanaan sehingga membuat peserta lain semakin mengerti.

Ibu Resarizki Utami, S.T., M.Si. juga menambahkan bahwa selain dapat dilakukan di rumah, SMAN 1 Punggur juga dapat melakukan kegiatan pembuatan kompos bersama dengan siswa. Siswa diminta untuk membawa sampah dari rumah masing-masing.

Kemudian dikumpulkan di dalam keranjang dan dapat digunakan setelah dua hingga tiga bulan dengan mengontrol suhu dan kelembaban kompos. Pengontrolan dapat dilakukan dengan meraba permukaan kompos. Apabila hangat, ini berarti mikroorganisme sedang berproses menguraikan sampah tersebut.

Penambahan EM4 atau air gula juga dapat membantu mikroorganisme dalam proses penguraian. Selain air gula juga dapat digunakan eco-enzyme yaitu pupuk cair organik yang berasalh dari campuran sampah sisa sayur dan buah dengan larutan gula yang telah didiamkan.

“Setelah panen, komposnya nanti bisa digunakan untuk tanaman di sekolah.” tutup Bu Resa.

Kegiatan ditutup dengan foto bersama dan pemberian kenang-kenangan berupa beberapa perlatan pembuatan kompos seperti keranjang, sekam, karung dan sebagainya.

Harapannya dengan terselenggaranya kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat menjadi pengalaman baru bagi para siswa, guru, maupun pihak lain yang belum pernah melakukan pembuatan kompos ini. Sehingga bisa menjadi upaya kecil dalam menanggulangi pencemaran di kemudian hari. (humas/mf)

Tautan terkait:

Video proses pembuatan kompos metode Takakura

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *