Site Overlay

Remediasi Sebagai Metode Pemulihan Lingkungan Tercemar

Oleh: Randi Ahmad Kurnia (TL ITERA Angkatan 2018)

Kali ini kita akan membahas mengenai Teknik Remediasi. Sebelum itu kita harus mengetahui apa itu remediasi? Ada beberapa terminologi penting arti kata remediasi. Proses pemulihan dari kondisi terkontaminasi cemaran menjadi kondisi acuan. Dari wikipedia, remediasi adalah kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah yang tercemar. Apabila kita telusuri lebih dalam, remediasi ada tiga yaitu remediasi fisik (isolasi dan pewadahan ke suatu tempat cemaran), remediasi kimia (solidifikasi dan ekstrasi kimia) dan remediasi biologi (biofilter, bioventing, dan lain-lain). Yang terakhir lebih dikenal dengan istilah bioremediasi.

Selain media tanah, remediasi dapat dilakukan di media air dan udara (ITB, 2009) . Menurut pemateri saat webminar kemarin yaitu bapak Agus Jatnika Effendi, remediasi adalah upaya rekayasa untuk memperbaiki situs yang terkontaminasi dengan memperlakukan tanah yang terkontaminasi, GW dan Lumpur serta gas yang dihasilkan dan menjadikannya tidak berbahaya, sehingga menghilangkan tanggung jawab di masa depan yang mungkin timbul dari masalah atau pelanggaran TPA.

Prinsip dari remediasi ini sendiri adalah untuk memulihkan kondisi lingkungan yang telah tercemar agar dapat kembali pulih dan dapat digunakan untuk kegiatan-kegiatan produktif. Dalam proses remediasi ini biasa diterapkan dalam pemulihan wilayah yang terkontaminasi oleh limbah B3. Remediasi terbagi menjadi 2 ada yang menggunakan media tumbuhan dan
ada juga yang menggunakan media mikroorganisme. Yang menggunakan media tumbuhan adalah fitoremediasi, dan yang menggunakan mikroorganisme adalah bioremediasi.

Tahapan pemulihan menurut fungsi lingkungan hidup yang berdasarkan UU No. 32 tahun 2009 pasal 54. Tahapan awal pemulihan nya dimulai dari pengehentian dan pembersihan penyebab pencemaran. Lalu melakukan remediasi untuk mengembalikan fungsi nya, lalu rehabilitasi guna menggunakan kondisi lahan tercemar, dan melakukan restorasi dan yang terakhir yaitu mengimplementasikan ilmu dan teknologi dalam pemulihan lahan. Sedangkan tahapan pemulihan menurut PerMen LH No. 33 tahun 2009 tentang pemulihan lahan terkontaminasi limbah B3.

Tahapan pemulihan menurut fungsi lingkungan hidup yang berdasarkan UU No. 32 tahun 2009 pasal 54. Tahapan awal pemulihan nya dimulai dari pengehentian dan pembersihan penyebab pencemaran. Lalu melakukan remediasi untuk mengembalikan fungsi nya, lalu rehabilitasi guna menggunakan kondisi lahan tercemar, dan melakukan restorasi dan yang terakhir yaitu mengimplementasikan ilmu dan teknologi dalam pemulihan lahan. Sedangkan tahapan pemulihan menurut PerMen LH No. 33 tahun 2009 tentang pemulihan lahan terkontaminasi limbah B3.

Menurut peraturan ini tahapan nya yaitu :
1. Perencanaan
2. Pelaksanaan
3. Evaluasi
4. Pemantauan

Dalam melakuan remediasi, ada 2 teknik yang dapat diterapkan ada in situ dan juga ex situ. Dalam pemilihan teknik nya, berdasarkan jenis cemarannya. Selain itu juga kita harus mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan dari kedua teknik remediasi itu. Kelebihan in situ yaitu mengurangi gangguan terhadap lokasi, pengolahan pencemaran yang lebih dalam, kontak yang minimal dengan cemaran volatil dan tentunya sangat mengurangi biaya transpor meliputi ijin yang terkait dengan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Kekurangannya, diperlukan data geohidrologi yang lebih detail, pengendalian kondisi reaksi dan hasil akhir yang sulit, monitoring yang lebih hati-hati dan perlu rekayasa lebih lanjut untuk suplai O2 dan nutrient.

Kelebihan ex situ, optimasi kondisi pengolahan, pengendalian proses, pengolahan lebih cepat dan mikroorganisme khusus dapat diimplementasikan. Sedangkan kekurangannya, diperlukan kegiatan pemindahan bahan pencemar, Mahal, materi volatil kurang terkontrol pada saat kegiatan pemindahan limbah (ITB, 2009) .

Jika membicarakan remediasi, tentu sangat berhubungan dengan yang nama nya kontaminan. Dalam penentuan teknik remediasi, kita harus mengenal dulu jenis kontaminan nya baru kita bisa menentukan teknik nya. Karakteristik dari media kontaminan di lihat berdasarkan 3 aspek yaitu aspek fisik, kimia, dan biologi. Karakteristiknya :

  1. Fisik : PSD, kandungan air, kerapatan curah, permeabilitas tanah, dsb.
  2. Kimia : pH, kadar asam humat, ORP, Kow, dsb.
  3. Biologi : Enumerasi Bakteri, akseptor elektron, nutrisi, dsb.

Sifat-sifat dari kontaminan diantaranya :

  1. Senyawa organik yang mudah menguap
  2. Senyawa organik semi-volatil
  3. Pestisida dan herbisida
  4. PCB
  5. Logam
  6. Sianida
  7. Hidrokarbon

Dalam melakukan remediasi dapat kita lakukan beberapa metode. Dalam pemilihan metode mungkin bisa dipertimbangkan berdasarkan kelebihan dan kekurangan masing-masing metode nya. Disini kita akan memberikan contoh dari beberapa metode-metode remediasi, diantaranya:

Remediasi memang upaya pemulihan lingkungan yang tercemar. Namun alangkah lebih baiknya kita mencegah terlebih dahulu adanya pencemaran lingkungan sebelum melakukan pemulihan. Agar lingkungan kita tetap berguna sesuai fungsi nya.

Refrensi

ITB, K. B. (2009). Remediasi . Bulletin Ecoengineer .

Tulisan ini merupakan rangkuman dari kegiatan Webinar PSLH ITB dengan tema “Teknik Remediasi” oleh Dr. Agus Jatnika Effendi (Dosen Teknik Lingkungan ITB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2020 . All Rights Reserved. | Catch Vogue by Catch Themes