Site Overlay

Penguatan Elemen Masyarakat Bantaran Sungai sebagai Upaya Perubahan Perilaku untuk Meningkatkan Kualitas Sungai Melalui Pilar Sanitasi dan Pengelolaan Lingkungan*)

Oleh: Novi Kartika Sari, S.T., M.T.

*)Essay dimenangkan pada kompetisi essay IEEE (Indonesia Environmental Engineering Student Summit) tahun 2016 dengan sub tema masyarakat

Artikel dapat diunduh melalui tautan berikut:

1. Pendahuluan

1.1    Permasalahan Sungai di Indonesia

Sungai merupakan ekosistem yang dapat dimanfaatkan untuk kehidupan makhuk hidup. Pemanfaatan sungai pada umumnya untuk meningkatan produksi pertanian, sumber daya air kehutanan sehingga berdampak berkelanjutan [1]. Selain itu, fungsi sungai menurut UU No. 11 Tahun 1974 tentang pengairan, sungai memiliki fungsi dan peranan sebagai pengairan, air baku air minum, air industri serta drainase makro. Fungsi dan peranan sungai tersebut tidak terwujud dengan baik sebab pencemaran meningkat dari tahun ke tahun.

Kondisi DAS (Daerah Aliran Sungai) kian memburuk akibat pengelolaan yang tidak baik. Kerusakan DAS dipercepat dengan adanya peningkatan pemanfaatan SDA (Sumber Daya Alam) sebagai akibat laju pertumbuhan penduduk, peningkatan sektor ekonomi, ketidakpaduan berbagai sektor serta konflik kepentingan. Pemanfaatan SDA yang tidak terkontrol dan terencana menimbulkan dampak kerusakan lingkungan. Hal tersebut dapat memicu terjadinya bencana alam seperti banjir, tanah longsor, serta penurunan kualitas maupun perubahan kuantitas air sungai sehingga akan mengurangi daya tampung sungai terhadap air hujan (akibat terjadinya pendangkalan) [2].

Di Indonesia terdapat 15 sungai yang semakin kritis akibat sedimentasi, pencemaran maupun kerusakan di daerah hulu hingga hilir. Sungai tersebut diantaranya adalah Sungai Citarum, Cimanuk, Ciujung, Bengawan Solo, dan Brantas. Pada sungai Sumber Brantas, Malang memiliki debit 5 m3/hari. Debit sungai mengalami penurunan bila dibandingkan 10 tahun lalu yang memiliki debit 12 m3/hari [3]. Kondisi buruk lainnya pada Sungai Citarum yang memiliki gelar sebagai salah satu sungai tercemar di dunia. Beban pencemar domestik dengan parameter coliform dapat mencapai 2.300.000 MPN/100 ml. Kondisi buruk tersebut dapat berpengaruh pemanfaatannya pada instalasi PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) di 3 bendungan besar.

Selain itu, kualitas air yang kian memburuk maupun debit air yang menurun selama sepuluh tahun terakhir menunjukan daya resapan air terdegradasi [4]. Menurut laporan Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pada tahun 2015 terdapat 67,94% sungai di Indonesia memiliki status tercemar. Pencemaran tersebut didominasi oleh limbah domestik [5]. Limbah domestik ini berasal dari masyarakat di perkotaan maupun bantaran sungai. Perilaku dan kebiasaan yang salah dalam mengelola lingkungan akan memperburuk kondisi sungai. Pada tulisan ini akan difokuskan perihal pengaruh perilaku masyarakat di bantaran sungai terhadap kualitas sungai melalui perubahan perilaku yang dipicu oleh elemen masyarakat yang terpadu.

1.2    Hubungan Permasalahan Sungai dengan Masyarakat

Berbagai jenis pencemaran sungai dilakukan oleh manusia melalui pemanfaatan sumber daya alam yang tidak diikuti dengan pengelolaan lingkungan yang baik. Pemanfaatan tersebut dapat melalui penggunaan air untuk kebutuhan sehari-hari, MCK (Mandi Cuci Kakus), industri kecil hingga besar maupun penggunaan lain. Bila ditinjau penyebab dari kelompok masyarakat, pencemaran yang dilakukan seperti pembuangan limbah MCK, limbah cair, dan sampah. Menurut Karliansyah M.R., Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan KLHK dalam media Antara, menyebutkan bahwa limbah domestik yang masuk ke badan sungai dewasa ini sebesar 60-70%.

Kejadian tersebut salah satunya disebabkan oleh penyalahgunaan sempadan/ bantaran sungai yang digunakan sebagai daerah pemukiman [6]. Setidaknya 10 ton sampah per hari dibuang ke sungai dan belum termasuk limbah domestik maupun industri yang dapat mencapai 33 ton per hari [7]. Selain itu menurut data sekretariat STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat), hingga 2015, sebanyak 34 juta jiwa masih melakukan BABS (Buang Air Besar Sembarangan) [8]. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa masih banyak penduduk Indonesia, khususnya berpemukiman di bantaran sungai yang memiliki kesadaran rendah dalam menjaga kebersihan sungai. Hal ini dikarenakan penduduk sebagai subyek dalam pembuangan limbah domestik cair maupun padat.

2. Pembahasan Dan Solusi

2.1 Penguatan Elemen Masyarakat

Penguatan elemen masyarakat yang dimaksudkan adalah peningkatan koordinasi dan komunikasi kelompok masyarakat berupa karang taruna, komunitas/LSM atau perkumpulan arisan oleh bapak-ibu hingga ketua RT. Sinergitas dilakukan dengan cara kekeluargaan dan peningkatan sense of belonging terhadap lingkungan. Dalam hal ini ketua RT memiliki pengaruh besar dalam perubahan perilaku masyarakat. Ketua RT dapat memicu dan sebagai inisiasi awal untuk membuat tim dan melakukan perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan.

Penginisiasi harus memiliki keberanian untuk memberikan contoh, mendapatkan dan menggerakan massa (kelompok masyarakat) maupun mensinergiskan komunitas dan LSM untuk melakukan perubahan. Pembentukan budaya atau norma dalam masyarakat perlu dilakukan. Ketua RT tersebut dapat mengajukan pada swasta atau pemerintah untuk pendampingan perubahan perilaku tersebut. Menurut jurnal psikologi, perilaku dapat dirubah 21-66 hari. Penelitian tersebut dapat dijadikan acuan sebagai program perubahan perilaku.

Dewasa ini, banyak komunitas/LSM, dan swasta yang bergerak dalam bidang lingkungan. Hal tersebut menjadi peluang bagi kelompok masyarakat untuk mendapatkan bantuan. Bantuan dapat berupa penyuluhan, pendampingan hingga pendanaan. Perubahan tersebut membutuhkan dana yang cukup besar sehingga menjadi suatu permasalahan baru bagi masyarakat. Dalam hal ini, kelompok masyarakat dapat bekerjasama dengan swasta (melalui dana CSR), komunitas/LSM, maupun yang berkepentingan sebagai upaya perubahan perilaku dan pengelolaan lingkungan.

2.2    Perubahan Perilaku Masyarakat

Perilaku masyarakat daerah bantaran sungai memiliki andil besar dalam pencemaran pada sungai. Faktor penyebab tersebut diantaranya adalah kesadaran, keberanian bertindak, pengetahuan, keterbatasan sarana dan prasarana dari pemerintah, kurang tegasnya aparat negara serta tidak adanya satu pandangan mengenai lingkungan [9]. Hal ini sebagai dasar permasalahan yang perlu segera dibenahi. Banyak penelitian yang dilakukan pemerintah untuk pengelolaan lingkungan. Namun, kekuatan terbesar dalam suatu perubahan yang significant akan terjadi bila perilaku masyarakat dapat diubah. Perilaku dapat terbentuk dengan dorongan dari lingkungan maupun individu.

Dorongan terbesar pada perubahan presepsi dan perilaku dipengaruhi oleh lingkungan. Sedangkan faktor individu dipengaruhi oleh intelegensi, pengalaman pribadi, sifat kepribadian dan motif [10]. Seperti pembahasan sebelumnya bahwa diharapkan ketua RT dan tim dapat sebagai pengisiasi awal dalam perubahan perilaku. Riset lain menyebutkan bahwa terdapat korelasi antara faktor status sosial maupun ekonomi dengan peningkatan peran serta masyarakat dalam kebersihan [11]. Perilaku dan wawasan masyarakat memiliki hubungan significant terhadap pola pembuangan sampah. Maka, perubahan perilaku yang berdasarkan dorongan maupun wawasan dari masyarakat perlu ditingkatkan [12].

Strategi perubahan perilaku dapat diadopsi melalui pilar STBM. Pilar ini merupakan pencapaian utama menuju sanitasi yang baik. Sehingga selain mendapatkan perubahan perilaku masyarakat untuk menjaga kualitas air sungai, juga mendapatkan dampak positif dalam menuju sanitasi yang baik. Pilar yang dapat diadopsi diantaranya adalah stop BABS, mengelola sampah dengan benar, dan mengelola limbah cair rumah tanggayang aman [8].

2.2.1 Stop BABS

Dalam pilar STOP BABS ini berlandaskan bahwa melakukan pembuangan tinja sembarangan selain dapat memperburuk kualitas air sungai juga dapat merugikan kesehatan dari masyarakat. Terbukti sekitar 423 per seribu penduduk pada semua umur mengidap penyakit diare yang disebabkan oleh BABS [8]. Pembuatan jamban sehat dapat dilakukan sebagai solusi. Namun hal tersebut pada umumnya menjadi kendala. Sehingga sebelum mendapatkan pendanaan maka solusi jangka pendek yaitu masyarakat dapat membangun cubluk didekat rumah dengan jarak 10 m dari sumur atau sungai sebagai fasilitas pembuangan tinja.

2.2.2 Mengelola Sampah Dengan Benar

Dalam pengelolaan sampah ini bermula dari reduksi sampah dari setiap rumah tangga sebanyak 5% dari sampah domestik. Pengelolaan yang baik harus mulai dilakukan. Pemilahan dasar yang dapat dilakukan dapat berupa pemiliahan sampah yang dapat dibuat kompos dan tidak. Perlu diingat bahwa sampah tersebut tidak boleh dibuang sembarangan di sungai. Pembuangan dilakukan di tempat pembuangan sampah terpadu. Sampah yang dapat dikomposkan harus diupayakan untuk dilakukan komposting.

2.2.3 Pengelolaan Limbah Cair

Pembuangan limbah cair ini berkorelasi dengan pembuangan tinja. Penghindaran pembuangan limbah cair ke sungai harus dilakukan untuk mengurangi pencemaran sungai. Dalam hal ini, masyarakat yang berwawasan dalam pengolahan limbah sangat dibutuhkan. Limbah cair seharusnya dialirkan menuju instalasi pengolahan limbah (IPAL). Permasalahan biasanya muncul adalah pembiayaan. Seperti penjelasan sebelumnya bahwa banyak pihak yang memiliki andil terhadap permasalahan ini.

3. Kesimpulan

Kesimpulan dari tulisan diatas adalah

  1. Permasalahan sungai di Indonesia sangat serius yang disebabkan limbah domestik oleh masyarakat bantaran sungai.
  2. Presepsi dan wawasan (faktor inividu), serta penginisiasi sebagai pendorong (faktor lingkungan) memiliki pengaruh dalam perubahan perilaku masyarakat.
  3. Penguatan elemen masyarakat yaitu kelompok masyarakat, LSM, komunitas serta ketua RT sebagai penginisiasi dan mensinergiskan secara terpadu untuk melakukan gerakan perubahan perilaku masyarakat.
  4. Perubahan perilaku masyarakat dapat diadopsi dari strategi pilar STBM untuk mewujudkan sanitasi dan sungai yang baik dan bersih yaitu stop BABS, mengelola sampah, dan pengelolaan limbah cair.

4. Referensi

[1]Direktorat Kehutanan dan Konservasi Sumberdaya Air. 2008. Kajian Model Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Terpadu.

[2]Handr. 2009. Kerusakan DAS Pemicu Bencana Banjir dan Longsor. < http://www.anta-ranews.com/berita/164413/kerusakan-das-pemicu-bencana-banjir-dan-longsor>.

[3]Triyoono A. 2015. 15 Sungai Besar di Indonesia dalam Kondisi Kritis.< http://nasional.ko-ntan.co.id/news/15-sungai-besar-di-indonesia-dalam-kondisi-kritis>.

[4]Rohmat D. Posisi Strategis Upaya Konservasi untuk Pengelolaan Sumber Daya Air DAS Citarum di Indonesia. Jawa Barat . Regional Open Network Confrence ofCKNet INA West Java Region.

[5]Fauziah L. 2016. Limbah Domestik, Musuh Utama Sungai Indonesia. < http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/07/limbah-domestik-musuh-utama-sungai-indonesia>.

[6]Purnamawati D. 2014. 70 Persen Sungai Tercemar Limbah Rumah Tangga. < http://www.antarane-ws.com/berita/466480/70-persen-sungai-tercemar-limbah-rumah-tangga>.

[7]Pribadi A. 2015. Kodisi Sungai di Indonesia Tercemar dan Kritis. < http://rri.co.id/post/berita/185141/nasional/kondisi_sungai_di_indonesia_tercemar _dan_kritis.html>.

[8]Direktorat Penyehatan Lingkungan Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementrian Kesehatan RI. 2013. Roadmap Percepatan Program STBM 2013-2015.

[9]Wardiah. 2015. Persepsi dan Perilaku Masyarakat Bantaran Sungai Deli Terhadap Pemanfaatan Jasa Lingkungan Sungai Deli. Medan : USU.

[10]Azwar A. 1990. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Jakarta: Yayasan Mutiara

[11]Nurdin U. 2007. Hubungan Sosial Ekonomi Terhadap Peran Serta Masyarakat Dalam Keberhasilan Lingkungan. Depok : UI.

[12]Putro  H.  P.  H.  dan  Putri  S.  A.  2015.  Kajian  Hubungan  Faktor-Faktor  Yang Membentuk Perilaku Masyarakat Terhadap Pola Pembuangan Sampah di Luwuk. SAPPK ITB.

Biodata Singkat Penulis

Nama              : Novi Kartika Sari, S.T., M.T.

Pekerjaan       : Dosen Prodi Teknik Lingkungan ITERA

Lulusan           : Teknik Lingkungan ITS (2015); Teknik Lingkungan ITB (2018)

Tergabung dalam Kelompok Keahlian (KK) Pengelolaan Limbah dan Kualitas Udara, Program Studi Teknik Lingkungan ITERA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2020 . All Rights Reserved. | Catch Vogue by Catch Themes